Tiga hari dua malam paling padat

Mengulang tradisi liburan semester perdana kuliah, semester kedua ini ane balik lagi main ke jogja. Liburan sebelumnya, total waktu yang ane habiskan liburan ada empat hari. Empat hari di jogja ga berasa banget, karna satu dan lain hal beberapa temen yang ane ajak ketemuan ngebatalin janjian. Tempat wisata yang ane kunjungin juga cuma satu, tebing breksi. Betapa ruginya. Saat itulah ane kepikiran "ok besok lagi kalo mau ke bumi jogja, paling engga harus seminggu". Tapi apa daya apa  terjadi saudara-saudara? Aku cuma bisa stay tiga hari dua malam di jogja pada liburan selanjutnya.

Hal yang pertama kali disayangkan adalah perbedaan jadwal kelar UAS antara univ ane di Surabaya, dan univ temen-temen ane di Jogja. Suratan takdir menentukan ane duluan yang kelar UAS, mengakibatkan tanggal main bersama kawan-kawan Jogjaku yang sudah kurancang hancur. Jadilah liburanku di Jogja hanya jatuh pada hari Sabtu dan Minggu.

Sebenarnya sempat terbesit mindset "semakin pendek waktunya, semakin sedikit pula wajah-wajah yang bisa aku temui waktu di Jogja". Tapi ternyata hal yang aku khawatirkan tidak terjadi. Emang kalo dilihat-lihat gak cukup gitu buat explore Jogja dalam waktu tiga hari dua malam, tapi emang bukan explore nya yang aku cari. Walaupun menikmati angin sore di gumuk pasir itu asoy banget, ngeliat sunset di Pantai Selatan Jogja itu bikin hati adem abis, belum lagi sapa-sapaan sama matahari waktu visit Situs Wrungboto jam satu siang, beuhhh kerasa banget Jogjanya. Tapi tau gak sih? Merasa di prioritaskan oleh temen-temen yang rela sekedar bertemu dan bercakap dengan diriku despite keadaan mereka yang masih berada di minggu-minggu ujian itu....wow. The honour is on me. 

Sesuatu yang aku pegang selama ini soal ---social life, meeting people kinda stuff--- is baiklah, thats okay kalau ada orang yang tiba-tiba ngebatalin jadwal, mungkin waktu yang mereka punya itu terlalu berharga untuk ketemu manusia bernama dita. Im putting it into the universe, hey, kalo bisa ketemu ya hayuk, kalo ga yaudah.

Tapi tau gaksih (lagi), ternyata itu adalah pemikiran klise. As we grow older, indeed, we processing how important every life is,and how necessary it is to appreciate every people we meet.

Bukan "aku tidak punya waktu untukmu", tapi "Aku bisa meluangkan waktu untukmu" ANJAY

sunset di pantai

Gumuk pasir bersama sintul







Situs Warungboto







Hayo tebak ini siapa


Comments

Popular posts from this blog

Tetap senang meski mabok SPAB

The Most Postponed Trip Ever Part 1